Belajar Dari Mamang Bakso
ya berhubung saya barusan makan bakso chuanki jd saya mau bahas tentang mamang bakso tersebut muehehehehe
mamang bakso ini sebenernya udah sering lewat depan rumah saya, sering juga keluarga saya beli baksonya
tapi payahnya saya baru menyadari satu hal
mamang bakso tersebut fisiknya tidak lengkap, tepatnya tangan kirinya tidak bisa berfungsi.
kemudian saya ingat, semenjak bulan puasa ini mamang bakso selalu berjualan di atas jam 10 (biasanya kalo malem normal mulai jualan sekitar jam 8an), hipotesis saya sih si mamang solat taraweh dulu baru jualan. subnallah. saya langsung membandingkan diri saya yg secara fisik normal ini kadang-kadang suka khilaf meninggalkan taraweh, berkelit dengan berbagai macam alasan.
hal yang membuat saya salut adalah mamang bakso ini walaupun secara fisik tidak lengkap, tapi dia tidak lantas berpangku tangan. maksud saya, ya anda tau sendirilah makin maraknya pengemis yang kadang saya lihat masih sehat wal afiat. jadi teringat kejadian belum lama ini di alun-alun Jogjakarta, waktu itu saya dan teman-teman saya sedang bermain di sana, mencoba peruntungan siapa tau bisa lewat di antara pohon beringin keramat tersebut :p hehe
ketika sedang asik-asiknya bergiliran mencoba, datang seorang pemuda, raga nya saya lihat sehat wal afiat, tidak kurang apapun, akan tetapi dia datang meminta belas kasihan, meminta dikasihani atas ketidakmampuannya dalam segi materi.
kalau dibandingkan dengan mamang bakso ini, walaupun fisiknya terbatas, tapi ia menolak dikasihani secara cuma-cuma atas ketidakmampuan materinya, ia terus berusaha bekerja untuk menghidupinya.
kebanyakan dari kita mungkin tidak sadar untuk bersyukur atas segala hal postive yang telah Allah berikan pada kita semua, sebagian dari kita sadar akan tetapi menuntut lebih dan mengeluh atas hal yang tidak dipunyai tanpa melakukan usaha yang signifikan.
mamang bakso tersebut secara tidak langsung telah menyampaikan pesan pada saya, pada kita semua bahwa sesusah apapun batasannya, yang namanya batasan itu pasti bisa dilewati, batasan itu terkadang membuat otak kita berpikir secara terbatas dan buntu dalam menemukan solusi, tapi bukannya tidak mungkin kan batasan itu kita lewati untuk menuju ke arah yang lebih baik? to a betterment :)